WEB RESMI UPTD SMPN 3 BAJUIN

Jl. Desa Tebing Siring RT 10 Dusun II Kecamatan Bajuin Kab. Tanah Laut - Kalimantan Selatan

-

SUDAH BANGKITKAH PENDIDIKAN KITA?

Jum'at, 22 Februari 2019 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 150 Kali

Sejarah kebangkitan nasional dimulai sejak berdirinya Budi Utomo 20 Mei 1908 oleh dr. Soetomo dan kawan-kawan yang mengadopsi semangat kedaerahan serta tujuannya hanya memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura saja, atau berdirinya Syarikat Dagang Islam tahun 1905 di Pasar Lawe­yan Solo yang awalnya berdiri unt­uk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu, kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam, berdirinya Indishe Party sebagai Partai Politik pertama tahun 1912 ataukah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Hari kebangkitan nasional dirayakan pada tanggal 20 Mei setiap tahunnya adalah sebagai wadah intropeksi dan evaluasi tentang semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berjuang menuju bangsa Indonesia yang bermartabat.

Indikator pencapaian dari yang dimaksud oleh Hari Kebangkitan Nasional ini, sangat erat kaitannya dengan peranan pendidikan nasional dalam membentuk karakter serta kemampuan akademis generasi bangsa sebagai penerus perjuangan hingga mampu bersaing di era globalisasi dewasa ini.

Rencana besar pendidikan di Indonesia untuk mempersiapkan generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka yaitu pada tahun 2045 mendatang, sangat erat kaitannya dengan pembangunan sumber daya manusia khususnya di bidang pendidikan.

Rencana besar ini menjadi landasan bagi para penggiat dunia pendidikan dalam meningkatkan profesionalitas guna membentuk generasi yang komprehensif, produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Di awal abad ke-19, Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan sebutan Ki Hadjar Dewantara salah satu tokoh reformis Kebangkitan Nasional, beliau juga dikenal sebagai bapak pendidikan sudah menyampaikan semboyan yang telah digunakan serta pendoman penggiat pendidikan di Indonesia dari dulu sampai sekarang, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan)

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa realitasnya dunia pendidikan saat ini masih jauh dari yang diharapkan, mulai dari kebohongan-kebohongan publik yang diciptakan oleh para oknum pelaku dunia pendidikan demi mencapai target nilai serta kelulusan dalam pelaksanaan Ujian Nasional, atau seorang pendidik yang tega mencabuli anak didiknya hingga pendidik yang terjerat tindak kriminalitas.

 Selain itu juga, masalah tauran, perkelahian ataupun tindak brutal yang dilakukan oleh peserta didik mulai jenjang sekolah paling rendah hingga perguruan tinggi juga menjadi momok buruknya potret pendidikan nasional.

Ramainya para pejabat pusat hingga di daerah terjerat tindak pidana korupsi, atau konflik-konflik sosial seperti kerusuhan, perang antar suku, hingga pada tindak anarkis oleh masyarakat sebagaimana diberitakan pada media cetak ataupun elektronik, padahal  dalam hal ini sebagian bahkan seluruh lapisan masyarakat itu sendiri pernah mengenyam dunia pendidikan nasional minimal ditingkat yang paling rendah.

Menurut Thomas Lickona dalam Educating for Character: How our school can teach respect & responsibility, Sepuluh Tanda Kehancuran Bangsa adalah: 1) Peningkatan kekerasan remaja, 2) Budaya ketidak jujuran, 3) Fanatik terhadap kelompok, 4) Rasa hormat terhadap guru dan orang tua rendah, 5) Moral baik dan buruk tidak jelas, 6) Penggunaan bahasa memburuk, 7) Perilaku merusak diri seperti  narkoba, alkohol, seks, dan lainnya, 8) Tanggung jawab individu dan warga Negara rendah, 9) Etos kerja minim dan saling curiga, 10) Kurang peduli sesama.

Lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah berupaya melakukan perbaikan mendasar terhadap Sistem Pendidikan Nasional yang sebelumnya dinilai masih jauh dibawa standar yang diharapkan.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, definisi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Selanjutnya undang-Undang tersebut juga menyatakan fungsi pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sedangkan Tujuan dari Pendidikan nasional menurut Undang-Undang tersebut adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, harus diselenggarakan secara sistematis guna pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill.

Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Melalui reformasi sistem pendidikan nasional kedepan diharapkan dunia pendidikan Indonesia mampu mencetak masyarakat yang memiliki karakter positif yang kuat serta mampu menghadapi berbagai tantangan serta krisis kepercayaan dan krisis sosial di masyarakat.

Salah satu dari pengembangan pendidikan karakter adalah meningkatkan se­mangat kejuangan dan nasionalisme sebagimana yang telah ditunjukkan para founding father terbukti telah berhasil membawa bangsa ini memproklamasikan kemer­dekaannya dan tampil sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Oleh karena itu, di tengah marak­nya tantangan serta krisis kepercayaan dan krisis sosial di masyarakat, menjadi kewajiban bagi segenap komponen bangsa untuk saling memberikan pencerahan dan saling berupaya membangun dan menumbuhkembangkan kembali karakter kejuangan dan nasionalisme itu.

Menumbuhkan karakter kejuangan dan na­sionalisme niscaya dapat dijadikan se­bagai modalitas potensial, serta memiliki peran penting dalam menentukan kekuatan dan kemampuan bangsa untuk mencapai tujuan pem­bangunan serta kebangkitan nasional bangsa Indonesia.

 

Oleh: Alfian, M. Pd

KAUR Kesiswaan UPTD SMPN 3 Bajuin

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

H. Rakhmad Safitri, S.Pd

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam Sejahtera dan Selamat Datang di website UPTD SMPN 3 BajuinSemoga melalui media internet ini kebutuhan informasi…

Selengkapnya

JAJAK PENDAPAT

Bagaimana menurut anda pelayanan di UPTD SMPN 3 Bajuin?

LIHAT HASIL